Beras dalam kantong-kantong putih diangkut dari Dompu ke Jakarta melalui bus Malam. Bu Maryam, mengirim beras utk anaknya yg kuliah di Jakarta. Satu kantong 25 kg, ongkos kirimnya 60 ribu. Ketika ditanya, kenapa tidak dikirim uangnya saja, lebih ringkas dan murah? Bu Maryam menjawab, "ini tradisi, mengirim anak dengan beras, bukan uang.
Foto yang satu ini adalah salah satu "favorit" saya, kenapa ? Foto ini akan menuntun kita untuk menganalisa dan mengerti bagaimana dan apa yang dipikiran Generasi muda Bima khususnya. Mari kita berpolemik dan beropini bagaimana dan dari sudut pandang mana kita harus memulainya. Positif dan Negatif itu adalah Relatif namun yang terpenting bagi kita semua yang peduli dengan arah masa depan Bima, berikan pendapat anda.
Foto diatas adalah salah satu pesantren yang ada di Bima yakni Pesantren Nurul Amin yang berada di sape yang juga milik ORMAS terbesar di NTB Nahdatul Wathan. Sekarang mari kita berandai-andai, bagaimana menjelaskannya sebuah kenyataan dimana para murid bisa belajar dengan kondisi tersebut. Kalau kita sering mendengar bahwa anak-anak sekolah di daerah lain kesulitan menjangkau lokasi tempat dimana mereka sekolah tapi sebaliknya, di Sape murid MI dan MTS justru mereka harus melewati lumpur yang persis ada di lingkup sekolah mereka untuk menjangkau kelas masing-masing.
Luas, kokoh dan kuno. Itulah kesan yang tertangkap dari gedung Museum Asi Mbojo yang terletak di jantung Kota Bima. Bangunan tersebut dahulu merupakan istana kasultanan Bima, kini berfungsi sebagai museum. Museum Asi Mbojo bukan hanya saksi sejarah Bima, lebih dari itu ia menyimpan cerita panjang temali benang merah peradaban masyarakat Bima dari masa kesultanan Bima hingga kini.
Bersih-bersih kuda sebelum dipertandingkan. Setelah bersih dan minum cairan penguat tersebut, sang Kuda Pacu pun dihiasi sedemikian rupa. Tali khusus sebagai pegangan joki yang diikatkan di leher dan mulut kuda dipasang. Uniknya, warna tali ini pun beragam dan seperti sengaja dihiasi guna menambah cantik penampilan kuda pacuan.
Masjid kesultanan Bima yang diberi nama Masjid Sultan Muhammad Salahuddin, di halamannya terdapat makam beberapa keluarga dan Sultan/Raja Bima.
![]() |
Wisata alam dan bahari juga bisa dikembangkan. Kawasan pesisir dari Pantai Lawata sampai pintu gerbang Kota Bima bisa dikembangkan sebagai pusat perhotelan dan perdagangan souvenir. Taman Kota juga bisa diciptakan sebagai alternatif bagi wisatawan domestik. Pariwisata yang cukup potensial untuk dikembangkan di wilayah ini adalah: Pantai Lawata, Pantai Amahami, Pantai Oi Ni'u, Pantai Ule, Pantai Kolo dan Pulau Kambing.
Pertama saya melihat Foto ini, saya sangat terkejut yang ternyata pesona bima sangat luar biasa. Sayangnya tidak dimanfaatkan secara maksimal. Pemerintah khususnya Departemen Pariwisata harusnya berkewajiban untuk mencari dan memanfaatkan sumber2 keindahan alam untuk mempromosikan Bima di tingkat Nasional maupun Internasional, agar pesona2 alam tidak hanya dinikmati dari Foto dan Gambar saja.
Banyak Julukan untuk indonesia :
Tapi sungguh ironis sebab rakyatnya belum maksimal memanfaatkan sumber2 kekayaan untuk kemakmuran seluruh rakyat. Berbicara tentang Agraris yang kalau menurut Pandangan dari sisi Ekonomi bahwa telah terjadi pergeseran dimana Sektor Pertanian sudah tidak menjadi faktor penentu untuk peranannya dalam sumbangsihnya untuk negara. Bahkan tidak terkecuali untuk di daerah Bima, telah erjadi pergeseran fungsi lahan yang beralih menjadi Perumahan.
- Indonesia adalah Negara Kepulauan
- Indonesia adalah Negara Bahari
- Indonesia adalah Negara Agraris
- Dll
Tapi sungguh ironis sebab rakyatnya belum maksimal memanfaatkan sumber2 kekayaan untuk kemakmuran seluruh rakyat. Berbicara tentang Agraris yang kalau menurut Pandangan dari sisi Ekonomi bahwa telah terjadi pergeseran dimana Sektor Pertanian sudah tidak menjadi faktor penentu untuk peranannya dalam sumbangsihnya untuk negara. Bahkan tidak terkecuali untuk di daerah Bima, telah erjadi pergeseran fungsi lahan yang beralih menjadi Perumahan.
Indonesia sekarang tinggal slogannya saja.
Lomba ketangkasan balap kuda alias pacoa jara bagi masyarakat Suku mbojo benar-benar telah menjadi tradisi. Joki cilik, yang usianya baru terhitung lima tahun keatas terlihat menjadi penambah semangat setiap penonton yang melihat lomba pacuan kuda.


