Saya masih sangat ingat dulu masih usia 8 atau 9 tahun, saat itu sering kali melihat nenek saya setiap kalau kepasar mengenakan kain yang menutupi seluruh tubuhnya hanya kelihatan matanya saja ( Rimpu ). Rimpu sendiri untuk masyarakat Bima dan Dompu sudah tidak asing jika mendengar istilah itu khususnya orang2 " Jadul ". Kenapa saya sebut jadul sebab Rimpu sudah jarang terlihat digunakan lagi dan sayangnya hanya muncul di event2 tertentu saja. Sungguh merupakan imbas dari sebuah " Revolusi " peradaban..
Luas, kokoh dan kuno. Itulah kesan yang tertangkap dari gedung Museum Asi Mbojo yang terletak di jantung Kota Bima. Bangunan tersebut dahulu merupakan istana kasultanan Bima, kini berfungsi sebagai museum. Museum Asi Mbojo bukan hanya saksi sejarah Bima, lebih dari itu ia menyimpan cerita panjang temali benang merah peradaban masyarakat Bima dari masa kesultanan Bima hingga kini.
Masjid kesultanan Bima yang diberi nama Masjid Sultan Muhammad Salahuddin, di halamannya terdapat makam beberapa keluarga dan Sultan/Raja Bima.
Lomba ketangkasan balap kuda alias pacoa jara bagi masyarakat Suku mbojo benar-benar telah menjadi tradisi. Joki cilik, yang usianya baru terhitung lima tahun keatas terlihat menjadi penambah semangat setiap penonton yang melihat lomba pacuan kuda.

